Di dunia bisnis, nama Abdurrahman bin Auf adalah legenda. Beliau bukan sekadar kaya, tapi merupakan salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Menariknya, beliau sering menyebut dirinya “berbisnis dengan Allah”. Kekayaannya yang melimpah justru membuatnya semakin takut jika harta tersebut menghambat langkahnya menuju surga.
Bagi #KawanAksi, mari kita pelajari bagaimana pola pikir seorang miliarder surgawi dalam mengelola hartanya.
1. Memulai dari Nol dengan Mentalitas Tauhid
Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf datang tanpa membawa harta sepeser pun. Namun, saat ditawari bantuan harta oleh kaum Anshar, beliau menolak dengan halus dan berkata: “Tunjukkan saja padaku di mana pasar.”
Beliau tidak bergantung pada pemberian manusia, melainkan pada kerja keras dan pertolongan Allah (Tawakal). Dalam waktu singkat, bisnisnya berkembang pesat hingga beliau menjadi orang terkaya di Madinah.
2. Mendapatkan Hati Allah: Filosofi Sedekah Tanpa Batas
Istilah di sini merujuk pada kegigihan beliau dalam memberikan harta terbaiknya demi mengharap ridha-Nya. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Al-Ishabah mencatat kedermawanan beliau yang luar biasa:
-
Pernah menyumbangkan 40.000 dinar emas dalam satu waktu.
-
Menyerahkan 500 ekor kuda untuk pasukan perang.
-
Menyedekahkan 700 unta beserta seluruh muatannya (gandum, minyak, dan tepung) saat kafilah dagangnya tiba di Madinah.
3. Ketakutan Sang Miliarder
Ada sebuah riwayat dalam Kitab Hilyatul Awliya karya Abu Nu’aym, bahwa suatu hari Abdurrahman bin Auf menangis saat hendak berbuka puasa dengan makanan yang enak. Beliau teringat sahabat Mus’ab bin Umair yang mati syahid hanya dengan kain kafan yang tidak cukup menutup seluruh tubuhnya.
Beliau khawatir jika kekayaannya di dunia adalah bentuk “percepatan” nikmat yang seharusnya didapat di akhirat. Inilah yang mendorongnya untuk terus menghabiskan hartanya di jalan Allah.
4. Berbisnis yang Memberkati Banyak Orang
Bagi Abdurrahman bin Auf, harta adalah alat dakwah. Beliau memerdekakan ratusan budak dan menanggung biaya hidup para janda serta anak yatim dari kalangan Muhajirin. Beliau membuktikan bahwa menjadi kaya raya adalah mulia, asalkan harta itu ada di tangan (untuk dikelola), bukan di hati (untuk dicintai).
Ikuti Jejak Sang Saudagar Surga
Kisah Abdurrahman bin Auf mengingatkan kita bahwa sedekah tidak akan membuat kita miskin. Sebaliknya, sedekah adalah cara paling aman untuk menjaga harta kita agar tetap bernilai di akhirat kelak.
Mari #KawanAksi, jadilah “tangan di atas” seperti Abdurrahman bin Auf. Bantu saudara-saudara kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan pokok di bulan penuh berkah ini melalui Wujud Aksi Nyata: 👉 Sedekah Berkah Ramadhan- Wujud Aksi Nyata
Harta yang Mengalirkan Pahala
Jadilah kaya agar bisa memberi lebih banyak. Abdurrahman bin Auf mengajarkan bahwa sukses sejati adalah ketika bisnis kita di dunia, membantu kita “membeli” tempat terbaik di surga.