Mengapa Allah Menyebut Diri-Nya “Kami” di Beberapa Ayat Al-Qur’an?

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT terkadang menyebut diri-Nya dengan kata “Aku” dan di saat lain dengan kata “Kami”. Secara tauhid, umat Islam meyakini bahwa Allah itu Esa (Tunggal). Namun, secara bahasa, penggunaan kata “Kami” dalam Al-Qur’an bukan menunjukkan jumlah, melainkan menunjukkan keagungan dan keterlibatan.

Mari #KawanAksi kita bedah perbedaannya berdasarkan penjelasan para ulama:

1. Penggunaan Kata “Kami” (Nahnu): Simbol Keagungan dan Keterlibatan

Dalam kaidah bahasa Arab, kata “Kami” digunakan sebagai bentuk Lil ‘Azhamah, yaitu untuk mengagungkan diri sendiri (The Royal We). Selain itu, kata “Kami” biasanya digunakan dalam ayat yang melibatkan “perantara” atau hukum sebab-akibat (seperti malaikat, alam, atau proses tertentu).

  • Contoh Ayat:

    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

    Dalam penurunan Al-Qur’an, Allah melibatkan perantara Malaikat Jibril. Begitu juga dalam proses turunnya hujan atau penciptaan manusia di rahim, Allah menggunakan kata “Kami” karena ada proses dan keterlibatan hukum alam (sunnatullah) di dalamnya.

2. Penggunaan Kata “Aku” (Ana): Simbol Kedekatan dan Ketauhidan

Kata “Aku” digunakan dalam konteks yang sangat personal, menunjukkan kedekatan antara hamba dengan Sang Pencipta, serta dalam ayat-ayat yang menegaskan kemutlakan ibadah hanya kepada Allah.

  • Contoh Ayat (Kedekatan):

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…” (QS. Al-Baqarah: 186)

  • Contoh Ayat (Tauhid):

    “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku…” (QS. Thaha: 14)

    Dalam hal doa dan pengesaan ibadah, tidak boleh ada perantara. Allah menyebut diri-Nya dengan “Aku” untuk menunjukkan bahwa Dia sangat dekat dan hanya Dia-lah satu-satunya yang berhak disembah.

3. Sumber Resmi dan Pendapat Ulama

Para ulama tafsir terkemuka telah menjelaskan hal ini secara mendalam untuk menghindari kesalahpahaman:

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin: Menjelaskan bahwa kata “Kami” menunjukkan keagungan (Ta’zhim), dan bukan menunjukkan bahwa Tuhan itu banyak.

  • Tafsir Al-Munir (Dr. Wahbah az-Zuhaili): Menyebutkan bahwa transisi gaya bahasa (Iltifat) ini bertujuan untuk menarik perhatian pembaca agar merenungkan maksud dari setiap ayat tersebut.

  • Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (Kemenag RI): Dalam berbagai kajiannya, dijelaskan bahwa variasi ini adalah bagian dari kemukjizatan bahasa Al-Qur’an yang sangat presisi dalam menempatkan kata.

Sempurnakan Pemahaman dengan Aksi Nyata

Memahami cara Allah menyapa kita dalam Al-Qur’an seharusnya membuat kita semakin merasa dekat dan tunduk kepada-Nya. Kekuasaan Allah yang “Agung” dan cinta Allah yang “Dekat” bisa kita syukuri dengan membantu sesama yang membutuhkan.

Mari #KawanAksi, wujudkan rasa syukurmu melalui Wujud Aksi Nyata:

👉 Sedekah Syukur & Takwa – Wujud Aksi Nyata

Allah Maha Esa dalam Segala Keagungan-Nya

Jadi, penggunaan kata “Kami” bukan berarti Allah itu jamak, melainkan bentuk penghormatan terhadap diri-Nya sendiri yang Maha Besar. Sebaliknya, kata “Aku” adalah undangan bagi kita untuk selalu mendekat dan bersandar hanya kepada-Nya.