Di zaman Rasulullah SAW, kendaraan bukan sekadar alat transportasi — ia adalah simbol status, kekuatan, dan bahkan bagian dari strategi dakwah serta perjuangan Islam. Rasulullah SAW sendiri memiliki beberapa kendaraan pilihan: kuda, unta, dan bighal (baghal, hasil silangan kuda dan keledai). Dari semuanya, ada yang tercatat dalam sejarah dengan harga yang jauh lebih tinggi dari yang lain.
Al-Murtajiz: Kuda yang Dibeli dengan 10 Ekor Unta
Inilah kendaraan Rasulullah SAW dengan nilai tukar termahal yang tercatat dalam riwayat. Kuda ini bernama Al-Murtajiz, dibeli langsung oleh Rasulullah SAW dari seorang laki-laki dari Bani Juhainah dengan harga 10 ekor unta.
Jika dibandingkan dengan standar harga di masa itu, sepuluh ekor unta adalah nilai yang sangat besar — mengingat unta sendiri adalah salah satu aset paling berharga di jazirah Arab, digunakan untuk transportasi jarak jauh, perdagangan, bahkan sebagai mahar pernikahan. Menukar satu ekor kuda dengan sepuluh unta menunjukkan betapa istimewanya kuda ini di mata Rasulullah SAW.
Uniknya, kuda ini pernah diikutsertakan dalam perlombaan pacuan dan keluar sebagai pemenang — membuat Rasulullah SAW merasa sangat bangga dan gembira atas kemenangan tersebut.
Al-Qaswa: Unta Termahsyur yang Dibeli dari Abu Bakar RA
Selain Al-Murtajiz, ada satu kendaraan lain yang tidak kalah bersejarah: unta bernama Al-Qaswa’ (disebut juga Al-Jad’a atau Al-‘Adhba). Unta ini dibeli Rasulullah SAW dari sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, dengan harga 400 dirham — jumlah yang juga tergolong besar pada masanya.
Al-Qaswa’ bukan sekadar kendaraan biasa. Unta inilah yang ditunggangi Rasulullah SAW saat peristiwa hijrah bersejarah dari Makkah menuju Madinah. Unta inilah pula yang beliau naiki saat berkhutbah di Padang Arafah dalam momen Haji Wada — haji perpisahan beliau sebelum wafat.
Al-Qaswa’ juga dikenal sebagai unta pacuan yang tidak terkalahkan dalam waktu yang lama, hingga suatu ketika mengalami kekalahan yang membuat para sahabat merasa gelisah, karena mengira ada makna tersembunyi di balik kekalahan tersebut.
As-Sakab: Kuda Perang Pertama Rasulullah SAW
Kuda lain yang juga bersejarah adalah As-Sakab, kuda betina pertama yang dimiliki Rasulullah SAW. Beliau membelinya dari seorang laki-laki Arab dari Bani Fazarah di Madinah dengan harga 10 uqiyah (setara sekitar 400 dirham menurut sebagian riwayat). As-Sakab adalah kuda yang pertama kali ditunggangi Rasulullah SAW dalam Perang Uhud.
Duldul: Bighal Hadiah dari Raja Mesir
Meski bukan dibeli dengan harga tertentu, Duldul layak disebut karena nilai historisnya yang tinggi. Bighal ini adalah hadiah dari Muqauqis, penguasa Mesir saat itu, sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW. Duldul ditunggangi beliau dalam Perang Hunain, dan diketahui hidup sangat lama — bahkan masih hidup setelah Rasulullah SAW wafat, hingga harus makan gandum karena hampir seluruh giginya sudah copot di usia senja.
Perbandingan Nilai Kendaraan Rasulullah SAW
| Nama Kendaraan | Jenis | Cara Diperoleh | Nilai |
|---|---|---|---|
| Al-Murtajiz | Kuda | Dibeli dari Bani Juhainah | 10 ekor unta |
| Al-Qaswa’ | Unta | Dibeli dari Abu Bakar RA | 400 dirham |
| As-Sakab | Kuda | Dibeli dari Bani Fazarah | 10 uqiyah |
| Duldul | Bighal | Hadiah dari Raja Mesir | Tidak dijual-belikan |
Mengapa Rasulullah SAW Sangat Memperhatikan Kendaraannya?
Dari sahabat Anas bin Malik RA, ia berkata: “Tidak ada sesuatu apapun yang lebih disukai Rasulullah SAW setelah para istri, selain kuda perang.” (HR. An-Nasa’i)
Ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah SAW terhadap kendaraannya — bukan karena kemewahan semata, melainkan karena kendaraan pada masa itu adalah kebutuhan strategis: untuk berdakwah menjangkau wilayah yang luas, untuk berperang mempertahankan Islam, dan untuk berdagang menghidupi keluarga serta umatnya.
Kendaraan-kendaraan ini bukan cuma alat transportasi biasa. Di baliknya tersimpan kisah hijrah, perjuangan, kemenangan, hingga detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah SAW — menjadikan setiap kendaraan tersebut bagian tak terpisahkan dari sejarah besar Islam.