Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain, Bolehkah dalam Islam?

Di era media sosial hari ini, mencari-cari kesalahan orang lain seakan menjadi kebiasaan yang dinormalisasi — bahkan dianggap sebagai bentuk kepedulian. Namun Islam telah menetapkan garis yang sangat jelas mengenai hal ini, jauh sebelum fenomena cancel culture dikenal.

Hadis yang Menjawabnya Secara Langsung

Rasulullah SAW bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menyandingkan dua larangan sekaligus dalam satu sabda: prasangka buruk (su’udzhan) dan mencari-cari kesalahan (tajassus). Keduanya bukan kebetulan disebutkan berdampingan — karena satu sama lain saling menghidupkan. Prasangka buruk mendorong seseorang untuk mencari bukti, dan pencarian itulah yang disebut tajassus.

Apa Itu Tajassus?

Tajassus secara bahasa berarti memata-matai atau mencari-cari aib. Dalam konteks syariat, tajassus adalah upaya aktif untuk menemukan kesalahan, kelemahan, atau aib orang lain — baik dengan mengintai, menguping, menelusuri riwayat hidup seseorang, maupun menyebarkan temuan tersebut kepada orang lain.

Allah SWT juga melarang hal ini secara eksplisit dalam Al-Quran:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Mengapa Dilarang?
1. Merusak Persaudaraan

Mencari-cari kesalahan orang lain menghancurkan kepercayaan dan ikatan persaudaraan sesama muslim. Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam di atas prinsip husnudzhan — berbaik sangka — bukan saling mengawasi satu sama lain.

2. Mempermalukan yang Tidak Berhak Dipermalukan

Setiap manusia punya aib yang ditutupi oleh Allah. Ketika seseorang sengaja membuka aib orang lain, ia sedang melawan kehendak Allah yang menutupnya. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

3. Diri Sendiri Tidak Lebih Bersih

Orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain hampir selalu lupa menghitung kesalahannya sendiri. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati yang sibuk mengawasi keburukan orang lain adalah hati yang lalai dari muhasabah diri.

Apakah Ada Pengecualiannya?

Ya. Para ulama membedakan antara tajassus yang dilarang dengan pengawasan yang dibenarkan secara syariat, di antaranya:

  • Pemimpin atau hakim yang menyelidiki kasus untuk menegakkan keadilan
  • Orang tua yang mengawasi anak demi melindungi mereka dari bahaya
  • Pihak berwenang dalam konteks keamanan dan kepentingan umum

Yang dilarang adalah pencarian aib yang didorong oleh rasa iri, ingin menjatuhkan, atau sekadar memuaskan rasa ingin tahu terhadap urusan pribadi orang lain.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Jika secara tidak sengaja mengetahui kesalahan atau aib orang lain, Islam mengajarkan tiga sikap: menutupnya, mendoakannya, dan jika memungkinkan menasihati secara langsung dengan cara yang baik — bukan menyebarkannya.


Mencari-cari kesalahan orang lain bukan tanda kepedulian. Dalam Islam, itu adalah tanda hati yang sakit. Hati yang sehat justru sibuk memperbaiki dirinya sendiri — karena di sanalah pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT.