Setiap manusia pasti pernah merasakan amarah. Namun, Islam mengajarkan bahwa orang yang kuat bukanlah yang pandai mengalahkan orang lain, melainkan yang mampu menahan dirinya ketika marah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu dengan bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salah satu cara meredakan amarah adalah dengan mengingat Allah dan membaca ta’awudz: “A’udzubillahi minasy-syaithanir-rajim.” Sebab, amarah itu datang dari setan, dan mengingat Allah akan membuat hati lebih tenang. Selain itu, Nabi ﷺ juga menganjurkan untuk mengubah posisi. Jika marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika masih marah, maka berbaringlah. Cara ini membantu meredakan emosi secara psikologis.
Mengambil wudhu juga menjadi cara yang sangat dianjurkan. Karena marah berasal dari api setan, wudhu dengan air mampu menyejukkan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud). Dengan wudhu, hati menjadi lebih jernih untuk berpikir.
Lebih dari itu, Allah memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134). Inilah puncak kesabaran seorang muslim, tidak hanya menahan emosi, tetapi juga memilih memaafkan.
Dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, seorang muslim akan mampu mengendalikan emosinya. Amarah yang tadinya bisa merusak hubungan, akan berubah menjadi ladang pahala jika disikapi dengan sabar dan ikhlas.