Kandungan Surah Al-A’la: Surah yang Selalu Rasulullah SAW Baca Waktu Sholat Jumat

Surah Al-A’la adalah surah ke-87 dalam Al-Quran, terdiri dari 19 ayat, dan termasuk golongan surah Makkiyah — diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Nama Al-A’la diambil dari kata pertama surah ini yang berarti “Yang Maha Tinggi”, merujuk kepada keagungan Allah SWT.

Surah ini adalah salah satu yang paling dicintai Rasulullah SAW. Beliau selalu membacanya dalam sholat Jumat, sholat Id, dan sholat Witir bersama Surah Al-Ghasyiyah dan Al-Ikhlas.

Tema Besar Surah Al-A’la

Para ulama tafsir membagi kandungan Surah Al-A’la ke dalam empat tema utama yang saling berkaitan.

1. Perintah Bertasbih dan Mensucikan Nama Allah

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (QS. Al-A’la: 1)

Ayat pembuka ini adalah perintah langsung kepada Rasulullah SAW — dan seluruh umatnya — untuk senantiasa mensucikan nama Allah dari segala kekurangan dan kelemahan. Inilah yang melahirkan bacaan “Subhana Rabbiyal A’la” dalam sujud sholat. Setiap kali kita sujud dan membaca kalimat ini, kita sedang mengamalkan perintah pertama surah ini.

Selanjutnya Allah menyebutkan tiga sifat perbuatan-Nya:

  • Khallaqa fasawwa — Dia yang menciptakan dan menyempurnakan
  • Qaddara fahadaa — Dia yang menetapkan takdir dan memberikan petunjuk
  • Akhraja al-mar’a — Dia yang mengeluarkan rerumputan, lalu menjadikannya kehitaman dan hancur

Tiga sifat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas seluruh siklus kehidupan — dari penciptaan hingga kebinasaan — semuanya berjalan di bawah kendali-Nya.

2. Jaminan Allah atas Hafalan Al-Quran

“Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki.” (QS. Al-A’la: 6-7)

Ayat ini turun sebagai ketenangan bagi Rasulullah SAW yang pada masa awal wahyu sangat khawatir lupa terhadap ayat-ayat yang diturunkan. Allah menjamin bahwa Al-Quran akan terjaga dalam ingatan beliau — dan secara lebih luas, dijaga oleh Allah hingga hari kiamat.

Ayat ini juga mengandung pelajaran bahwa kemampuan menghafal Al-Quran adalah pemberian dari Allah, bukan semata-mata kemampuan manusia. Maka bagi para penghafal Al-Quran, keistiqamahan dalam menjaga hafalan adalah bentuk syukur atas anugerah tersebut.

3. Perintah untuk Menyampaikan Dakwah

“Maka berikanlah peringatan, jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” (QS. Al-A’la: 9-11)

Ayat ini adalah panduan dakwah dari Allah kepada Rasulullah SAW. Ada dua poin penting: pertama, tugas seorang dai adalah menyampaikan — bukan memaksa hasilnya. Kedua, tidak semua orang akan menerima dakwah, dan itu bukan kegagalan sang penyampai melainkan pilihan masing-masing hati.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menjadi penghibur bagi Rasulullah SAW yang terkadang merasa sedih melihat banyak orang yang menolak Islam. Allah mengingatkan bahwa tugas beliau hanya menyampaikan dengan baik — bukan menentukan siapa yang beriman.

4. Kesengsaraan Orang yang Menghindari Kebenaran dan Keabadian Akhirat

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sholat. Tetapi kamu (orang kafir) lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 14-17)

Inilah inti pesan Surah Al-A’la yang paling mengena. Manusia cenderung terpukau oleh kehidupan dunia yang terasa nyata, kasat mata, dan segera terasa hasilnya. Sementara akhirat terasa jauh, abstrak, dan tidak mendesak. Padahal secara perbandingan, akhirat adalah yang lebih baik (khair) sekaligus lebih kekal (abqa).

Kemudian surah ini ditutup dengan menyebutkan bahwa ajaran ini sebenarnya bukan hal baru — ia sudah ada dalam shuhuf (lembaran wahyu) Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS. Ini menegaskan bahwa kebenaran Islam bukan agama baru, melainkan kelanjutan dari risalah para nabi sebelumnya.

Keutamaan Surah Al-A’la

Dari Nu’man bin Basyir RA, ia berkata: “Rasulullah SAW membaca dalam sholat Jumat dan sholat Id Surah Al-A’la dan Surah Al-Ghasyiyah.” (HR. Muslim)

Para ulama menyimpulkan dari hadis ini bahwa membaca Surah Al-A’la dalam sholat Jumat, sholat Id, dan sholat Witir adalah sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan untuk dihidupkan.

Pelajaran Utama dari Surah Al-A’la

Surah ini mengajarkan tiga hal sekaligus dalam urutan yang logis: kenali kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, jaga hubungan dengan-Nya melalui sholat dan dzikir, lalu luruskan prioritas hidup dengan tidak menukar akhirat demi kepentingan dunia yang fana.

Tiga langkah ini sederhana, namun cukup untuk menjadi kompas hidup seorang muslim.