Dalam ajaran Islam, kita sering mendengar bahwa Allah menyukai sesuatu yang ganjil (witr). Hal ini pasti memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan sifat Allah Yang Maha Esa. Lalu, kenapa Allah suka yang ganjil?
Dalil Allah Menyukai yang Ganjil
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan menyukai yang witir (ganjil).”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa Allah sendiri adalah Al-Witr (Maha Ganjil/Esa), sehingga apa pun yang bernuansa ganjil memiliki nilai istimewa dalam ibadah.
Contoh Ibadah Bernuansa Ganjil
Banyak amalan dalam Islam yang mengandung angka ganjil, di antaranya:
-
Shalat witir: dianjurkan dengan rakaat ganjil (1, 3, 5, 7, dst).
-
Tawaf di Ka’bah: dilakukan 7 putaran.
-
Lempar jumrah saat haji: masing-masing 7 kali lemparan.
-
Hari-hari utama di bulan Dzulhijjah: Allah berfirman, “Demi yang genap dan yang ganjil” (QS. Al-Fajr: 3).
Hikmah Allah Menyukai yang Ganjil
-
Menegaskan Keesaan Allah
Angka ganjil mengingatkan bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan, tidak berpasangan, tidak genap, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. -
Membedakan Allah dengan Makhluk
Makhluk Allah diciptakan berpasangan (laki-laki dan perempuan, siang dan malam), sementara Allah Maha Tunggal. -
Mengajarkan Keistimewaan dalam Ibadah
Unsur ganjil dalam ibadah menjadikan amalan terasa istimewa dan bernilai lebih, bukan sekadar rutinitas. -
Simbol Ketauhidan
Setiap kali kita melakukan ibadah dengan bilangan ganjil, itu menjadi pengingat bahwa hidup kita harus selalu kembali kepada Yang Esa.
Allah suka yang ganjil karena Allah sendiri adalah Al-Witr, Maha Esa dan tidak berbilang. Unsur ganjil dalam ibadah adalah bentuk pengingat bagi manusia agar selalu meneguhkan tauhid dan mengesakan Allah. Maka, jangan anggap remeh angka ganjil dalam ibadah, karena di dalamnya terdapat hikmah besar tentang keimanan kita kepada Allah.