Kisah Nabi Musa AS Kecil Disuruh Makan Bara Api oleh Firaun

Salah satu kisah masa kecil Nabi Musa AS yang paling sering diceritakan turun-temurun adalah peristiwa saat beliau diuji oleh Firaun dengan dua pilihan — dan pilihan yang diambilnya justru menyelamatkan nyawanya, meski meninggalkan bekas seumur hidup.

Awal Mula Kisah: Musa Kecil Menarik Janggut Firaun

Dikisahkan bahwa Nabi Musa AS pernah digendong oleh Firaun. Ketika berada dalam gendongannya, Musa kecil memukul dan menarik janggut Firaun.Saat itu usianya baru sekitar tiga tahun, dan tarikan itu membuat beberapa helai rambut janggut Firaun tercabut.

Firaun murka dan berkata kepada istrinya, Asiyah, bahwa anak ini kelak ketika dewasa akan membunuhnya jika tingkahnya sudah seperti itu sejak kecil. Namun Asiyah menjawab bahwa Musa hanyalah anak kecil yang belum mengerti apa-apa, dan menyarankan Firaun untuk mengujinya terlebih dahulu.

Ujian Bara Api dan Permata

Kepada Musa kecil ditawarkan dua bara api dan dua permata. Jika ia memilih dua permata, itu berarti ia sudah berakal dan boleh dibunuh. Namun jika yang dipilihnya adalah dua bara api dan memasukkannya ke mulut, berarti ia belum tahu apa-apa dan harus dibiarkan hidup.

Dalam sebagian riwayat lain, disebutkan Asiyah menghidangkan dua pilihan berupa manisan atau kurma dan bara api. Nabi Musa AS pada mulanya ingin mengambil manisan tersebut.

Peran Malaikat Jibril dalam Kisah Ini

Di sinilah pertolongan Allah SWT hadir. Wahyu dari Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril AS menggerakkan tangan Nabi Musa ke arah bara api, sehingga beliau memegang dan memasukkan bara api tersebut ke dalam mulutnya.

Tanpa disadari, Nabi Musa kecil memakan bara api tersebut, yang menyebabkan lidahnya meleleh dan terbakar. Meskipun peristiwa ini menyelamatkan nyawanya dari ancaman Firaun, dampaknya adalah Nabi Musa mengalami kesulitan berbicara dengan jelas sepanjang hidupnya.

Sejak saat itulah Nabi Musa memiliki lisan yang kurang fasih, yang menurut sebagian ahli tafsir merupakan kehendak Allah untuk menutupi kecerdasan Nabi Musa agar tidak diketahui oleh Firaun.

Kaitannya dengan Permohonan Nabi Musa AS di Kemudian Hari

Kisah ini kerap digunakan untuk menjelaskan mengapa ketika dewasa, Nabi Musa AS memohon kepada Allah SWT agar saudaranya, Harun AS, dijadikan pendamping dan juru bicara dalam misi dakwahnya menghadapi Firaun. Permohonan ini tercantum dalam Surah Thaha ayat 27-28, di mana Nabi Musa AS berdoa agar Allah melapangkan lisannya dan memberinya seorang pembantu dari keluarganya.

Perlu Diketahui: Status Kisah Ini di Kalangan Ulama

Penting untuk disampaikan secara jujur bahwa kisah ini, meski sangat populer dan sering diajarkan di berbagai madrasah, tidak sepenuhnya disepakati keabsahannya oleh seluruh ulama. Sebagian kalangan menilai kisah ini termasuk kisah israiliyat — riwayat yang berasal dari tradisi Yahudi-Kristen yang masuk ke dalam literatur tafsir Islam, namun tidak memiliki sanad yang kuat dari Rasulullah SAW.

Beberapa ulama kontemporer bahkan menjelaskan bahwa keterbatasan bicara Nabi Musa AS lebih tepat dipahami sebagai bagian dari misi besar dakwah yang memerlukan sinergi dan dukungan, bukan semata-mata akibat cedera fisik dari peristiwa memakan bara api.

Terlepas dari perdebatan status riwayatnya, kisah ini tetap sering disampaikan sebagai pelajaran karena mengandung hikmah yang mendalam tentang pertolongan Allah SWT yang selalu hadir bagi hamba-Nya yang dipilih menjadi nabi, bahkan sejak masa kanak-kanak yang paling rentan sekalipun.

Hikmah dari Kisah Ini

Terlepas dari perdebatan keabsahannya, ada pelajaran berharga yang bisa diambil: bahwa Allah SWT menjaga hamba-hamba pilihan-Nya dengan cara-cara yang terkadang tidak terduga, bahkan melalui keterbatasan yang tampak seperti kekurangan. Keterbatasan bicara yang dialami Nabi Musa AS justru menjadi sebab hadirnya Nabi Harun AS sebagai pendamping dakwah — sebuah bentuk kerja sama dan dukungan yang menjadi teladan penting dalam perjuangan menegakkan kebenaran.