Di antara jutaan spesies yang hidup di bumi, hanya manusia yang mampu mengambil lebih dari yang dibutuhkan, menimbun lebih dari yang bisa dihabiskan, dan merusak lebih dari yang bisa dipulihkan alam. Predikat “makhluk paling serakah di bumi” ini fakta — ada data dan penjelasan ilmiah maupun spiritual yang mendukungnya.
Fakta dari Sisi Sains dan Lingkungan
Hewan di alam liar pada dasarnya berburu dan makan sesuai kebutuhan biologisnya. Seekor singa yang sudah kenyang tidak akan terus memburu mangsa hanya untuk menimbun daging. Serigala tidak akan menghabiskan seluruh populasi rusa di suatu wilayah hanya demi kepuasan sesaat, karena secara naluriah mereka menjaga keseimbangan agar sumber makanan tetap tersedia di masa depan.
Manusia adalah pengecualian dari pola ini. Berbagai laporan lingkungan global menunjukkan bahwa manusia telah mengeksploitasi sumber daya alam jauh melampaui kapasitas regenerasi bumi. Organisasi lingkungan internasional bahkan mencatat bahwa kebutuhan konsumsi manusia global sudah melampaui kemampuan bumi untuk memulihkan dirinya sendiri — sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah ecological overshoot.
Deforestasi, penangkapan ikan berlebihan, eksploitasi tambang, hingga produksi sampah plastik yang tidak terkendali adalah bukti nyata bahwa keserakahan manusia bukan sekadar isapan jempol, melainkan krisis yang bisa diukur datanya secara global.
Perspektif Islam tentang Keserakahan Manusia
Al-Quran ternyata sudah menyinggung sifat ini jauh sebelum krisis lingkungan modern terjadi. Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya manusia itu sangat mencintai harta.” (QS. Al-Adiyat: 8)
Ayat ini menggambarkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta memang menjadi salah satu karakter dasar manusia yang perlu terus dikendalikan, bukan dibiarkan begitu saja.
Dalam ayat lain, Allah SWT menggambarkan sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup:
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq: 6-7)
Rasulullah SAW juga menggambarkan sifat serakah manusia terhadap harta dengan sangat gamblang:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi rongga mulut anak Adam kecuali tanah (kematian). Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi gambaran paling tegas bahwa nafsu manusia terhadap harta pada dasarnya tidak memiliki batas alami — ia hanya akan berhenti ketika ajal menjemput, bukan karena rasa cukup yang muncul dari dalam diri.
Mengapa Manusia Bisa Seserakah Ini?
1. Akal yang Disalahgunakan
Berbeda dengan hewan yang bertindak berdasarkan naluri, manusia memiliki akal untuk merencanakan, menimbun, dan menciptakan sistem yang memungkinkan eksploitasi dalam skala besar. Akal yang seharusnya digunakan untuk kebaikan justru sering disalahgunakan untuk memuaskan hasrat tanpa batas.
2. Tidak Ada Batas Alami seperti Hewan
Hewan memiliki mekanisme alami yang membatasi konsumsi mereka — rasa kenyang, insting bertahan hidup, dan keterbatasan fisik. Manusia, dengan teknologi dan kecerdasannya, mampu melampaui seluruh batasan alami tersebut, sehingga keserakahannya tidak terbendung oleh mekanisme biologis semata.
3. Pengaruh Hawa Nafsu dan Bisikan Setan
Dalam perspektif Islam, keserakahan manusia turut dipengaruhi oleh godaan setan yang terus membisikkan rasa tidak pernah puas. Allah SWT berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.” (QS. Al-Baqarah: 268)
Bagaimana Islam Mengajarkan Solusinya?
Islam tidak melarang manusia memiliki harta atau mengejar kesejahteraan. Yang diajarkan adalah mengendalikan hawa nafsu agar tidak melampaui batas, di antaranya melalui:
Zakat dan sedekah — sebagai mekanisme wajib dan sunnah untuk mendistribusikan kekayaan, mencegah penumpukan harta yang berlebihan pada satu pihak.
Konsep qana’ah — sikap merasa cukup dan bersyukur atas apa yang telah dimiliki, sebagai penawar utama dari sifat serakah.
Larangan israf (berlebihan) — Allah SWT berfirman: “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Konsep khalifah di bumi — manusia diperintahkan menjadi pemakmur bumi, bukan perusaknya, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat tentang tanggung jawab manusia menjaga alam.
Kesimpulan
Predikat manusia sebagai makhluk paling serakah di bumi bukan tanpa dasar — baik dari data ilmiah tentang eksploitasi sumber daya alam, maupun dari penjelasan Al-Quran dan hadis yang telah menggambarkan sifat ini sejak belasan abad lalu. Namun keserakahan bukan takdir yang tidak bisa diubah. Ia adalah pilihan yang bisa dikendalikan melalui kesadaran, rasa syukur, dan kembali kepada ajaran yang mengajarkan keseimbangan — baik terhadap sesama manusia maupun terhadap bumi yang menjadi tempat tinggal bersama.