Mualaf Belum Hafal Bacaan Sholat, Bolehkah Membaca dari HP atau Catatan?

Menjadi mualaf adalah perjalanan yang luar biasa, namun juga penuh tantangan — salah satunya adalah belum hafalnya bacaan-bacaan sholat yang menjadi rukun ibadah wajib lima waktu. Pertanyaan ini sangat wajar muncul: bolehkah menggunakan HP atau catatan sebagai bantuan membaca saat sholat?

Hukum Dasar: Membaca dari Mushaf atau Catatan Saat Sholat

Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Quran atau bacaan sholat dari mushaf, catatan, atau alat bantu lainnya saat sholat hukumnya boleh, selama tidak menghilangkan rukun sholat lainnya.

Dari Aisyah RA, diriwayatkan bahwa beliau pernah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwan, dan Dzakwan tersebut membaca Al-Quran dari mushaf dalam sholatnya. (HR. Bukhari, secara mu’allaq/dengan sanad terputus, namun dikuatkan oleh sejumlah ulama)

Imam Al-Bukhari mencantumkan riwayat ini dalam kitab shahihnya sebagai dalil bahwa membaca dari mushaf saat sholat diperbolehkan, meski bukan cara yang paling utama.

Bagaimana dengan HP atau Ponsel?

Menggunakan HP untuk membaca bacaan sholat pada dasarnya mengikuti hukum yang sama dengan membaca dari mushaf atau catatan kertas, karena substansinya sama — sebagai alat bantu untuk membaca teks bacaan yang belum dihafal.

Sejumlah lembaga fatwa kontemporer, termasuk Dar Al-Ifta Mesir dan beberapa ulama kontemporer lainnya, membolehkan penggunaan HP untuk membaca Al-Quran atau bacaan sholat, dengan catatan:

Layar tetap menampilkan teks bacaan, bukan digunakan untuk hal lain di tengah sholat.

Gerakan menggeser layar dilakukan seminimal mungkin agar tidak termasuk gerakan berlebihan yang dapat membatalkan sholat.

HP dalam mode senyap (silent) agar tidak ada notifikasi yang mengganggu kekhusyukan sholat maupun jamaah lain di sekitarnya.

Syarat agar Sholat Tetap Sah

Meski dibolehkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar sholat tetap sah dan tidak batal:

1. Gerakan Tidak Berlebihan

Rukun sholat mensyaratkan gerakan yang tidak boleh berlebihan (al-‘amal al-katsir). Mengambil HP, membuka aplikasi, atau menggeser layar sesekali termasuk gerakan ringan yang tidak membatalkan sholat. Namun jika terlalu sering mengetik atau mengoperasikan HP secara rumit di tengah sholat, hal ini bisa dianggap gerakan berlebihan yang membatalkan sholat.

2. Tidak Menghilangkan Kekhusyukan secara Berlebihan

Meski membaca dari alat bantu diperbolehkan, idealnya penggunaannya bersifat sementara sembari terus berusaha menghafal. Fokus utama sholat tetaplah kekhusyukan menghadap Allah SWT, bukan sekadar formalitas membaca teks.

3. Wajib Tetap Menghadap Kiblat dan Menjaga Rukun Lain

Penggunaan HP atau catatan tidak boleh mengganggu posisi menghadap kiblat, gerakan ruku, sujud, maupun rukun-rukun sholat lainnya yang tetap wajib dijaga.

Prioritas Utama: Tetap Berusaha Menghafal

Meski dibolehkan menggunakan alat bantu, para ulama menegaskan bahwa ini adalah solusi sementara, bukan solusi permanen. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah memudahkan urusan agama ini, dan agama itu tidak akan bisa dikalahkan kecuali oleh orang yang memberatkan dirinya sendiri. Maka luruskanlah, dekatkanlah, dan bergembiralah.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan bagi mualaf yang baru belajar, namun tetap dianjurkan untuk terus berusaha menghafal bacaan sholat secara bertahap — dimulai dari surat-surat pendek dan bacaan wajib seperti Al-Fatihah.

Bacaan Minimal yang Wajib Dihafal

Bagi mualaf yang baru belajar, prioritas menghafal yang paling utama adalah:

  1. Niat sholat (cukup dalam hati, tidak wajib dilafalkan)
  2. Takbiratul ihram — “Allahu Akbar”
  3. Surah Al-Fatihah — wajib dibaca di setiap rakaat
  4. Bacaan ruku dan sujud — “Subhana Rabbiyal Adzim” dan “Subhana Rabbiyal A’la”
  5. Tasyahud akhir — minimal kalimat syahadat

Setelah kelima bacaan dasar ini dihafal, alat bantu bisa perlahan dikurangi seiring bertambahnya hafalan bacaan-bacaan sunnah lainnya.

Tips Belajar Sholat bagi Mualaf

Belajar bertahap. Tidak perlu terburu-buru menghafal seluruh bacaan sekaligus. Fokus pada bacaan wajib terlebih dahulu.

Meminta bimbingan langsung. Belajar dengan didampingi ustaz atau saudara muslim yang bisa membimbing pelafalan yang benar akan jauh lebih efektif dibanding belajar sendiri.

Menggunakan aplikasi dengan transliterasi Latin. Bagi yang belum bisa membaca huruf Arab, aplikasi dengan tulisan Latin dapat membantu sementara sambil terus belajar membaca huruf Al-Quran (iqra).

Sholat berjamaah lebih dianjurkan. Selain pahalanya lebih besar, sholat berjamaah membantu mualaf belajar langsung dari gerakan dan bacaan imam.


Islam tidak pernah memberatkan hamba-Nya melebihi kemampuannya. Bagi mualaf yang baru belajar, menggunakan HP atau catatan sebagai alat bantu sholat adalah solusi yang diperbolehkan — sembari terus berusaha dan berproses menghafal bacaan-bacaan sholat secara bertahap dengan penuh kesabaran.