Beberapa waktu lalu, di tengah panasnya siang di Kota Langsa, tampak seorang kakek berjalan perlahan sambil memanggul dagangan usus goreng. Di pelukannya, seorang anak kecil tampak terbaring lemah, tubuhnya ringkih dan tatapan matanya sayu. Itulah Pak Idris, sosok lansia tangguh yang setiap hari berkeliling menjual jajanan keliling sambil menggendong cucunya yang sedang sakit.
Pak Idris tinggal di Desa Cinta Raja, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa, Aceh.
Setiap hari ia menyiapkan sendiri dagangan usus gorengnya, lalu berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil desa tanpa alas kaki, menempuh jarak hingga 20 kilometer hanya untuk mendapatkan penghasilan sekitar Rp10.000 per hari.
Namun perjuangan itu bukan semata demi dirinya — melainkan demi cucunya yang ia rawat dengan penuh kasih sayang.
Cucu yang Sakit, Orang Tua yang Tak Pernah Kembali
Cucu yang kini diasuhnya bernama Muhammad Dama, berusia sembilan tahun. Dama menderita cerebral palsy dan bronkopneumonia, dua penyakit berat yang membuat tubuhnya lemah dan membutuhkan perhatian khusus.
Sejak tahun 2018, kedua orang tua Dama pergi merantau tanpa pernah kembali, meninggalkan anak kecil yang saat itu baru berusia empat tahun dalam asuhan sang kakek.
“Mereka pergi setelah tahu Dama sakit dan butuh biaya besar. Sejak itu, tak ada kabar lagi,” tutur Pak Idris lirih.
Kini, di rumah kecil berdinding anyaman bambu dan beratap plastik biru, Pak Idris menjalani hari-harinya dengan Dama.
Ia memasak, mencuci, merawat, dan menenangkan cucunya setiap kali rasa sakit menyerang. Meski hidup dalam kekurangan, kasih sayang seorang kakek menggantikan segalanya.
Wujud Aksi Nyata dan #KawanAksi Hadir Membawa Bantuan
Alhamdulillah, berkat kepedulian para #KawanAksi, tim Wujud Aksi Nyata berkesempatan menyalurkan bantuan kebutuhan pokok dan uang tunai untuk Pak Idris dan cucunya.
Bantuan ini menjadi bentuk perhatian kecil, namun bermakna besar bagi beliau yang selama ini berjuang dalam sunyi.
Dalam sujud syukurnya, Pak Idris mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah peduli.
“Terima kasih banyak. Semoga semua yang membantu diberi kesehatan, rezeki, dan umur panjang,” ucapnya dengan senang.
Harapan dan Doa Seorang Kakek
Harapan terbesar Pak Idris sederhana — ia ingin melihat cucunya bisa sembuh dan bermain seperti anak-anak lainnya, meski hanya sekali sebelum ajal menjemput.
Doa itu terus ia panjatkan setiap hari, di sela lelahnya berdagang dan menjaga Dama yang terus berjuang.
Mari Terus Wujudkan Kepedulian untuk Sesama
Kisah Pak Idris adalah potret nyata ketulusan dan pengorbanan tanpa pamrih.
Di usia senjanya, ia tetap memilih berjuang, bukan menyerah.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menebar kasih dan peduli pada mereka yang membutuhkan.
Melalui Wujud Aksi Nyata, mari terus bersama mewujudkan harapan-harapan kecil yang berarti besar bagi sesama.
🌿 Sedikit dari kita, bisa jadi segalanya bagi mereka.