Rasulullah SAW Wafat karena Demam? Ini Kisah Lengkap dan Penjelasan Ulama

Wafatnya Rasulullah SAW pada 12 Rabiul Awal 11 Hijriah — bertepatan dengan 8 Juni 632 Masehi — adalah peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Di usia 63 tahun, manusia terbaik yang pernah hidup itu meninggalkan dunia dalam kondisi yang membuat para sahabat tidak mampu menahan tangis.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan beliau wafat?

Kronologi Sakit Rasulullah SAW

Beberapa bulan setelah Haji Wada’, kondisi Rasulullah SAW mulai mengkhawatirkan. Beliau mengalami demam tinggi dan sakit kepala yang sangat hebat. Dalam riwayat Bukhari, Aisyah RA menceritakan bahwa ia tidak pernah melihat siapapun mengalami demam sepanas yang dialami Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW meminta untuk diambilkan air dingin sebanyak tujuh qirbah yang belum dibuka talinya, karena beliau saat itu mengalami demam yang sangat tinggi dan kepala beliau terasa sangat panas. Beliau meminta air sebanyak itu agar dapat diguyurkan ke badan beliau untuk mengurangi demam dan meredakan panasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Rasulullah SAW masih menyempatkan memimpin sholat beberapa hari, hingga akhirnya beliau meminta Abu Bakar RA untuk menggantikannya.

Dua Pendapat tentang Penyebab Wafat

Para ulama dan sejarawan berbeda pendapat dalam satu hal penting: apakah wafatnya Rasulullah SAW murni karena sakit, atau ada kaitannya dengan racun dari Perang Khaibar?

Pendapat Pertama: Efek Racun dari Khaibar

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa wafatnya Rasulullah SAW merupakan sakit dari efek jangka panjang pasca beliau diracun oleh seorang wanita Yahudi di Khaibar.

Rasulullah SAW sendiri pernah menyampaikan hal ini kepada Aisyah RA menjelang wafatnya. Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda di saat beliau sakit menjelang wafat: “Wahai Aisyah, saya masih merasakan sakit dari racun yang ada di makanan pada saat di Khaibar. Inilah saatnya, urat nadiku akan terputus karena pengaruh racun itu.” (HR. Bukhari)

Kejadian tersebut terjadi pada tahun ke-7 Hijriah, usai kaum Muslim berhasil menaklukkan kaum Yahudi Khaibar. Istri salah satu tokoh Yahudi bernama Zainab binti Al-Harits memberikan hadiah daging kambing yang telah dibubuhi racun kepada Rasulullah SAW. Saat beliau memakan sebagian daging tersebut, beliau mendapat bisikan bahwa daging itu beracun. Kejadian ini membuat salah seorang sahabat bernama Bisyr bin Al-Barra’ meninggal dunia.

Efek racun tersebut masih dirasakan oleh Rasulullah SAW sampai beliau wafat, meski tidak langsung mematikan. Rasulullah SAW wafat sekitar empat tahun setelah peristiwa diracun tersebut.

Pendapat Kedua: Murni Sakit Demam

Pendapat kedua mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat karena sakit, didasarkan pada kondisi murni saat beliau akan wafat, yaitu mengalami sakit meriang yang sebelumnya dirasakan bersama para sahabat.

Nabi Muhammad SAW wafat dikarenakan beliau terkena wabah demam yang biasa terjadi di Madinah. Wabah demam kemudian menyebabkan infeksi Pleuritis — kondisi peradangan yang disebabkan oleh mikroorganisme baik jamur, virus maupun bakteri yang mengakibatkan rasa sakit ketika menarik napas.

Apa yang Disepakati Ulama

Meski ada perbedaan pendapat tentang penyebab utamanya, para ulama sepakat pada beberapa hal:

Pertama, Rasulullah SAW mengalami sakit yang sangat berat menjelang wafat — demam tinggi, sakit kepala hebat, dan kesakitan yang luar biasa. Beliau sendiri pernah bersabda bahwa sakit yang menimpanya setara dengan sakit yang menimpa dua orang sekaligus.

Kedua, kesakitan itu justru meninggikan derajat beliau. Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, lalu orang-orang shalih.” (HR. An-Nasa’i). Rasa sakit itu bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat beliau ke tingkat tertinggi.

Ketiga, Rasulullah SAW wafat sebagai syahid. Dalam sebuah hadis shahih, beliau bersabda bahwa orang yang meninggal karena penyakit perut adalah syahid, dan beliau sendiri merasakan efek makanan beracun yang memengaruhi perutnya hingga akhir hayat. Para ulama menyebutkan ini sebagai salah satu sebab mengapa Rasulullah SAW dihitung sebagai syahid.

Detik-Detik Terakhir

Kondisi Rasulullah SAW terus memburuk, dan beliau pun berpindah ke rumah istrinya, Aisyah RA, tempat beliau menghabiskan hari-hari terakhirnya. Di pangkuan Aisyah RA, dengan kepala bersandar di dadanya, Rasulullah SAW menghembuskan napas terakhir — menyerahkan ruhnya kepada Allah SWT.

Kalimat terakhir yang terdengar dari bibir beliau, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA, adalah: “Ar-Rafiq Al-A’la” — “Teman yang Maha Tinggi” — sebuah ungkapan kerinduan kepada Allah SWT dan para nabi sebelumnya di surga.

Wafatnya Rasulullah SAW bukan sekadar akhir dari sebuah kehidupan. Ia adalah penegasan bahwa beliau adalah manusia — manusia terbaik yang pernah Allah ciptakan — yang merasakan sakit, lelah, dan akhirnya menyerahkan nyawa, tepat seperti yang Allah firmankan:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144)