#KawanAksi, pernahkah kamu membayangkan bagaimana suasana masjid di malam-malam Ramadhan pada masa awal Islam? Ternyata, tradisi shalat Tarawih berjamaah secara teratur dengan satu imam di masjid—seperti yang kita lihat sekarang—memiliki sejarah yang sangat menarik yang bermula dari kebijakan Khalifah kedua, Umar bin Khattab ra.
Kisah ini memberikan edukasi tentang pentingnya persatuan, keteraturan, dan bagaimana sebuah kebijakan diambil demi kemaslahatan umat.
Suasana Masjid Nabawi yang Terpencar
Pada masa Rasulullah ﷺ, beliau pernah melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (yang kemudian kita kenal sebagai Tarawih) secara berjamaah selama beberapa malam. Namun, beliau kemudian menghentikannya karena khawatir shalat tersebut akan dianggap sebagai kewajiban oleh umatnya. Setelah beliau wafat, di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang-orang shalat Tarawih sendiri-sendiri atau dalam kelompok-kelompok kecil yang terpencar di sudut masjid.
Ketika Umar bin Khattab ra. menjadi Khalifah, beliau pergi ke masjid pada suatu malam di bulan Ramadhan. Beliau melihat pemandangan orang-orang yang shalat terpisah-pisah; ada yang shalat sendiri, ada pula yang diikuti oleh sekelompok kecil orang. Suara bacaan Al-Quran mereka pun saling bersahutan dan tidak beraturan.
Inisiatif Menyatukan Umat
Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab ra. berpikir bahwa akan lebih indah dan tertib jika mereka disatukan di bawah kepemimpinan satu imam yang bacaannya paling fasih. Beliau kemudian menunjuk Ubay bin Ka’ab ra. untuk menjadi imam bagi kaum muslimin.
Keesokan malamnya, Umar kembali ke masjid dan melihat pemandangan yang sangat indah: seluruh jamaah shalat dengan tertib di belakang satu imam. Masjid menjadi terang dengan cahaya lampu dan lantunan ayat suci yang seragam. Beliau kemudian berujar:
“Sebaik-baik bid’ah (inovasi dalam urusan teknis ibadah yang memiliki landasan syariat) adalah ini.” Pernyataan ini bermakna bahwa Umar menghidupkan kembali sunnah Nabi ﷺ yang sempat terhenti (berjamaah) dengan format yang lebih terorganisir demi persatuan umat.
Sumber Valid: Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya (Hadits No. 2010) dalam bab “Keutamaan Orang yang Menghidupkan Malam Ramadhan”.
Mengapa Shalat Tarawih Berjamaah Itu Penting?
Kebijakan Umar bin Khattab ra. ini mengandung beberapa pelajaran penting untuk kita semua:
-
Syiar Islam: Shalat berjamaah di masjid menghidupkan suasana Ramadhan dan menunjukkan kekuatan serta kekompakan umat Muslim.
-
Keteraturan dan Kedisiplinan: Dengan adanya satu imam, ibadah menjadi lebih tertib dan khusyuk. Masyarakat juga berkesempatan mendengarkan bacaan Al-Quran secara penuh jika masjid tersebut melakukan khataman.
-
Kemanfaatan Bersama: Kebijakan ini memudahkan orang awam untuk ikut melaksanakan shalat malam tanpa harus bingung melakukannya sendiri.
Meneruskan Warisan Kebaikan
Berkat ijtihad Umar bin Khattab ra., hingga saat ini kita bisa menikmati keindahan malam Ramadhan dengan shalat Tarawih yang berjamaah dan penuh keberkahan. Hal ini mengajarkan kita bahwa persatuan dalam ibadah memberikan dampak yang jauh lebih besar bagi umat.
#KawanAksi, mari kita makmurkan masjid-masjid kita di Ramadhan 2026 nanti. Selain memakmurkan dengan shalat, mari kita makmurkan dengan berbagi kepada para jamaah dan marbot masjid yang membutuhkan KLIK DISINI!