Pandangan Islam Tentang Penyimpangan Gender

Fenomena seseorang yang berpenampilan atau berperilaku menyimpang dari kodrat gendernya bukan hal baru. Dalam Islam, hal ini dikenal dengan istilah mukhanats (laki-laki yang menyerupai perempuan) dan mutarajjilat (perempuan yang menyerupai laki-laki). Keduanya telah dibahas secara rinci oleh para ulama berdasarkan hadis-hadis Rasulullah SAW.

Perspektif Islam
Larangan yang Tegas

Rasulullah SAW bersabda:

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Daud, dinilai shahih)

Larangan ini mencakup penampilan fisik, cara berbicara, cara berjalan, gaya berpakaian, hingga perilaku yang sengaja diadopsi untuk menyerupai lawan jenis.

Perbedaan Penting: Disengaja vs Bawaan

Para ulama membedakan antara dua kondisi yang sangat berbeda:

Pertama, mukhanats yang bersifat bawaan (khalqi). Yaitu seseorang yang sejak lahir memiliki sifat-sifat feminin secara alami tanpa disengaja. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW pernah berinteraksi dengan seorang mukhanats yang bersifat bawaan, dan beliau tidak menghukumnya — beliau hanya melarangnya bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya.

Kedua, mukhanats yang disengaja (mutakassib). Yaitu seseorang yang sengaja meniru dan mengadopsi perilaku lawan jenis demi kesenangan, keuntungan, atau ideologi. Inilah yang mendapat laknat sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dilarang adalah at-tashabbuh — yaitu kesengajaan untuk menyerupai — bukan kondisi bawaan yang seseorang sendiri tidak memilih atasnya.

Apa yang Islam Anjurkan?

Islam tidak memerintahkan umatnya untuk membenci atau menzalimi individu yang mengalami kondisi ini. Yang dilarang adalah perbuatan dan penampilan yang menyimpang, bukan penghinaan terhadap orangnya. Islam mengajarkan untuk mendekati dengan nasihat yang baik, mendoakan, dan membantu mereka kembali kepada fitrah — bukan mengucilkan atau merendahkan, tapi kalo susah dibilangin yaa silahkan.

Perspektif Ilmu Pengetahuan
Apa yang Diketahui Sains Sejauh Ini

Ilmu pengetahuan modern, khususnya psikologi dan neurobiologi, telah berupaya menjelaskan fenomena ini selama beberapa dekade terakhir. Beberapa temuan yang sudah cukup diterima secara ilmiah:

Faktor biologis — beberapa penelitian menunjukkan adanya variasi hormonal selama perkembangan janin yang dapat memengaruhi kecenderungan perilaku gender seseorang setelah lahir. Paparan hormon tertentu pada trimester tertentu kehamilan disebut sebagai salah satu faktor.

Faktor psikologis dan lingkungan — pola asuh, lingkungan sosial, pengalaman masa kecil, serta figur yang menjadi teladan terbukti berpengaruh signifikan terhadap pembentukan identitas gender seseorang, terutama pada usia dini.

Kondisi interseks — ada kondisi medis langka di mana seseorang lahir dengan anatomi atau kromosom yang tidak sepenuhnya masuk dalam kategori laki-laki atau perempuan secara biologis. Kondisi ini berbeda dari pilihan gaya hidup dan diakui dunia medis sebagai variasi biologis.

Yang Masih Diperdebatkan

Hingga hari ini, tidak ada konsensus ilmiah tunggal yang menyatakan bahwa penyimpangan gender sepenuhnya bersifat genetik atau sepenuhnya pilihan. American Psychological Association (APA) sendiri menyatakan bahwa orientasi dan identitas gender adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial.


Titik Temu Islam dan Sains

Islam dan sains sebenarnya sepakat pada satu hal: ada kondisi bawaan yang tidak sepenuhnya dipilih oleh seseorang, dan ada kondisi yang dipengaruhi oleh lingkungan serta pilihan. Islam mengakui kondisi bawaan (khalqi) sebagai sesuatu yang berbeda dari kesengajaan (mutakassib). Sains pun mengakui peran faktor biologis yang tidak sepenuhnya dalam kendali individu.

Yang menjadi titik perbedaan adalah pada tataran normatif — apa yang seharusnya dilakukan seseorang dengan kondisi tersebut. Islam memberikan panduan yang jelas: berusaha kembali kepada fitrah, menjaga penampilan dan perilaku sesuai kodrat, dan memohon pertolongan Allah.


Sikap yang Tepat

Dalam menghadapi fenomena ini, dua sikap yang perlu dihindari sekaligus:

Pertama, membenci dan merendahkan individu yang mengalaminya — karena Islam memerintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi siapapun.

Kedua, membenarkan dan menormalkan perilaku yang menyimpang dari kodrat — karena Islam memiliki garis yang jelas tentang fitrah manusia sebagaimana Allah ciptakan.

Sikap terbaik adalah: empati terhadap orangnya, namun tetap tegas terhadap prinsip agama.