Salah satu tanda besar hari kiamat yang wajib diimani setiap muslim adalah turunnya kembali Nabi Isa AS ke bumi. Bukan nabi lain, bukan pula Rasulullah Muhammad SAW sebagai penutup para nabi — melainkan Nabi Isa bin Maryam AS. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang wajar: mengapa harus beliau?
Dalil Turunnya Nabi Isa AS
Rasulullah SAW bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba masanya turun kepada kalian putra Maryam (Isa) sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah, dan harta akan melimpah ruah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa hadis-hadis tentang turunnya Nabi Isa AS di akhir zaman termasuk hadis mutawatir — diriwayatkan oleh begitu banyak sahabat sehingga tidak mungkin mengandung kedustaan. Ini adalah perkara akidah yang wajib diimani, bukan sekadar cerita tambahan.
Tiga Alasan Utama Menurut Ulama
Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam kitabnya At-Tadzkirah menjelaskan tiga alasan utama mengapa Nabi Isa AS yang dipilih, bukan nabi lainnya.
1. Membantah Klaim Kaum Yahudi
Ini adalah alasan yang paling banyak disepakati ulama. Kaum Yahudi meyakini bahwa mereka telah berhasil membunuh dan menyalib Nabi Isa AS. Padahal menurut akidah Islam, Allah SWT mengangkat Nabi Isa AS ke langit dan yang disalib bukanlah beliau, melainkan orang lain yang diserupakan dengannya.
Allah SWT berfirman:
“Dan mereka tidak berhasil membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 157)
Maka ketika Nabi Isa AS turun kembali di akhir zaman dan justru membunuh Dajjal — pemimpin besar yang dibai’at oleh kaum Yahudi — ini menjadi bantahan telak terhadap klaim mereka. Nabi Isa AS yang mereka kira sudah mati justru kembali dan mengalahkan pemimpin pasukan mereka sendiri.
2. Ajal Beliau Memang Belum Tiba
Alasan kedua menyatakan bahwa Nabi Isa AS diturunkan ke bumi bukan semata-mata untuk mengalahkan Dajjal, melainkan karena ajal kematiannya secara alami memang belum tiba. Sebagaimana diyakini dalam akidah Islam, Nabi Isa AS tidak wafat, melainkan diangkat hidup-hidup oleh Allah SWT ke langit, dan beliau akan kembali menjalani sisa hidupnya di bumi sebelum benar-benar wafat menjelang kiamat.
3. Isa AS Pernah Berdoa untuk Menjadi Umat Nabi Muhammad SAW
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Isa AS, setelah mengetahui sifat-sifat dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW beserta umatnya, pernah memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dapat menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Doa tersebut dikabulkan Allah dengan cara yang istimewa — beliau tetap hidup hingga akan turun di akhir zaman untuk mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW, bukan membawa syariat baru.
Kedekatan Istimewa dengan Rasulullah SAW
Ada satu keistimewaan lain yang menjadi alasan tambahan. Rasulullah SAW bersabda:
“Aku adalah orang yang paling dekat dengan putra Maryam (Nabi Isa AS), tidak ada seorang nabi pun di antara aku dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedekatan garis kenabian ini menjadikan Nabi Isa AS sosok yang paling relevan untuk melanjutkan dan menegakkan kembali syariat Islam pada masa itu — bukan membawa ajaran baru, melainkan menghidupkan kembali ajaran Nabi Muhammad SAW yang mulai ditinggalkan umatnya.
Apakah Nabi Isa AS Membawa Syariat Baru?
Tidak. Ini poin penting yang perlu diluruskan. Imam As-Suyuthi menegaskan bahwa Nabi Isa AS akan turun sebagai pengikut syariat Nabi Muhammad SAW, bukan sebagai nabi yang membawa risalah baru. Ketika turun nanti, beliau akan sholat di belakang imam kaum muslimin — bukan mengimami — sebagai bentuk penegasan bahwa syariat Islam adalah syariat penutup yang berlaku hingga hari kiamat.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, ketika Nabi Isa AS diminta oleh pemimpin muslimin saat itu untuk mengimami sholat, beliau menjawab: “Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.” — sebagai penghormatan terhadap kepemimpinan umat Nabi Muhammad SAW yang sudah berjalan.
Kesimpulan
Turunnya Nabi Isa AS bukan tentang siapa yang lebih mulia di antara para nabi, melainkan tentang penyelesaian sebuah kisah yang belum tuntas — membantah kedustaan yang diyakini kaum Yahudi selama berabad-abad, sekaligus menjadi bagian dari rencana besar Allah SWT untuk menegakkan kembali kebenaran Islam menjelang datangnya hari kiamat.