Jejak Hubungan Antara Palestina dan Israel dalam Perspektif Islam

Palestina dalam Al-Qur’an

Palestina, khususnya wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem), punya kedudukan istimewa dalam Islam. Allah menyebut Masjidil Aqsa sebagai masjid yang diberkahi sekelilingnya:

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”
(QS. Al-Isra: 1)

Ayat ini menjelaskan bahwa Isra Mi’raj Rasulullah ﷺ dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, menunjukkan betapa pentingnya tanah Palestina. Selain itu, dalam Al-Qur’an, wilayah itu juga disebut sebagai “al-ardh al-muqaddasah” (tanah yang disucikan) (QS. Al-Ma’idah: 21).

Palestina di Masa Rasulullah ﷺ dan Para Khalifah

Pada awal Islam, kiblat pertama umat Islam adalah Masjidil Aqsa, sebelum Allah memerintahkan untuk berpindah ke Ka’bah (QS. Al-Baqarah: 144). Hal ini menegaskan ikatan spiritual umat Islam dengan Palestina sejak masa Rasulullah ﷺ.

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Yerusalem ditaklukkan secara damai pada tahun 638 M. Umar menandatangani perjanjian dengan penduduk Yerusalem, dikenal sebagai Piagam Umar, yang menjamin keselamatan dan kebebasan beragama bagi kaum Yahudi dan Kristen.

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menulis bahwa Umar menolak untuk shalat di dalam Gereja Makam Kudus agar kelak tidak dijadikan alasan untuk mengubahnya menjadi masjid. Hal ini menunjukkan toleransi tinggi umat Islam terhadap agama lain di Palestina.

Yahudi dan Kristen di Bawah Pemerintahan Islam

Dalam fiqh Islam, komunitas Yahudi dan Kristen disebut Ahludz-Dzimmah, yakni non-Muslim yang dilindungi oleh pemerintahan Islam dengan membayar jizyah. Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menjelaskan bahwa ahludz-dzimmah berhak mendapatkan perlindungan jiwa, harta, dan kebebasan beribadah.

Artinya, meskipun terdapat ketegangan politik, secara umum orang Yahudi hidup berdampingan dengan umat Islam di Palestina selama berabad-abad. Bahkan, setelah Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Yerusalem dari pasukan Salib pada tahun 1187 M, beliau justru mengizinkan Yahudi kembali hidup di Yerusalem, berbeda dengan pasukan Kristen yang dulu mengusir mereka.

Dari Sejarah ke Konflik Modern

Pada zaman dahulu, tidak ada entitas negara bernama Israel. Yang ada adalah Bani Israil, keturunan Nabi Ya’qub (Israel), yang memang punya sejarah panjang di tanah Palestina. Mereka hidup berdampingan dengan umat Islam di bawah pemerintahan khalifah.

Konflik modern baru muncul setelah abad ke-20, ketika kolonialisme Inggris membuka jalan bagi deklarasi berdirinya negara Israel pada 1948. Peristiwa ini memicu pengusiran besar-besaran terhadap penduduk asli Palestina (Nakba). Sejak itu, konflik politik, agama, dan identitas semakin tajam.

Pandangan Ulama
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menegaskan bahwa Masjidil Aqsa adalah milik umat Islam, dan kewajiban kaum Muslim adalah menjaga serta membebaskannya dari penjajahan.

  • Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menyebut Palestina sebagai tanah yang diberkahi, karena di sana para nabi diutus dan tempat turunnya banyak wahyu.

  • Syaikh Yusuf Al-Qaradawi menekankan bahwa isu Palestina bukan hanya isu politik, tapi juga isu akidah dan kemuliaan umat Islam, karena terkait dengan Masjidil Aqsa.

Kesimpulan
  • Palestina adalah tanah suci bagi umat Islam, dengan ikatan sejarah, spiritual, dan peradaban yang panjang.

  • Orang Yahudi (Bani Israil) sudah lama ada di Palestina, tapi dalam sejarah pemerintahan Islam mereka dilindungi dan hidup berdampingan.

  • Konflik Israel-Palestina modern bukanlah warisan langsung dari zaman Islam klasik, melainkan muncul akibat kolonialisme, politik global, dan pendirian negara Israel pada 1948.

  • Bagi dunia Islam, membela Palestina adalah bagian dari menjaga kehormatan Masjidil Aqsa dan warisan spiritual umat Islam.