Kebakaran Hutan Kalimantan Meluas, 1.487 Titik Panas Terdeteksi hingga Berimbas ke Malaysia

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali meluas seiring datangnya musim kemarau. Kabut asap tebal kini menutupi sejumlah kota, jarak pandang menyempit drastis, dan ribuan warga mulai mengalami gangguan pernapasan.

Update Terbaru Titik Panas

Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis, 20 Agustus 2026, tercatat 1.487 hotspot tersebar di seluruh Kalimantan. Kalimantan Tengah mencatat konsentrasi tertinggi dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, dan Kalimantan Utara 3 titik.

Data lain dari Kementerian Kehutanan menunjukkan tren serupa. Berdasarkan pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI), sebanyak 750 hotspot berkepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan pada periode 17-19 Agustus 2026. Bahkan pada 19 Agustus saja, jumlah hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi (Kalbar, Kalteng, Kalsel) mencapai 518 titik.

Luas Lahan yang Sudah Terbakar

Data BNPB hingga pertengahan Agustus mencatat lebih dari 32 ribu hektare lahan terbakar di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan, dengan Kalimantan Barat mencatat luasan terbesar.

Di tingkat kota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya mencatat 298 kejadian karhutla selama periode 1 Juni hingga 19 Agustus 2026, yang mengakibatkan sekitar 261,41 hektare lahan terbakar, dengan kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti Kecamatan Sabangau.

Lonjakan titik panas juga tercatat signifikan di Kalimantan Barat. Wilayah ini mencatat 4.874 titik panas pada Juli 2026, meningkat 1.897 persen dibandingkan Juni, padahal sejak Januari 2026 jumlahnya relatif stabil di kisaran 200 titik per bulan.

Kualitas Udara Memburuk Drastis

Dampak kabut asap terhadap kesehatan mulai sangat mengkhawatirkan. Kualitas udara di Palangka Raya pada 19 Agustus 2026 mencapai AQI 487, masuk kategori berbahaya.

Di Banjarbaru, konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, yang juga masuk kategori berbahaya. Ribuan kasus ISPA dilaporkan di Palangka Raya dan Kotawaringin Barat. Di Kalimantan Tengah, sebanyak 2.052 warga tercatat mengalami ISPA dalam satu pekan terakhir.

Dampak terhadap Aktivitas Masyarakat

Kabut asap yang semakin tebal mulai mengganggu berbagai sektor kehidupan. Jarak pandang di sejumlah lokasi hanya sekitar tiga meter. Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengundur jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 WITA mulai Kamis (20/8). Kabut asap juga menyebabkan 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor mengalami keterlambatan.

Menurut sejumlah pihak, persoalan ini tidak lagi hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga telah berdampak terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Warga di lapangan pun mulai kewalahan. Masyarakat masih kesulitan mendapatkan masker dan layanan kesehatan, hingga mendorong inisiatif seperti rumah aman asap di Desa Pilang oleh Youth Act Kalimantan, sebagai solusi bagi warga yang tidak memiliki akses memadai untuk mendapatkan udara yang sehat.

Asap Sudah Merambah ke Malaysia

Dampak karhutla ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Kebakaran hutan Kalimantan yang makin meluas dengan 1.487 titik panas terdeteksi kini turut berimbas hingga ke Malaysia.

Langkah Penanganan Pemerintah

Pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla di Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, dengan melibatkan Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Penanganan di tiga provinsi prioritas ini melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan. Petugas melakukan patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan, penyekatan area terbakar, serta penjagaan lokasi rawan.

Selain pemadaman darat, pemerintah juga mengandalkan teknologi modifikasi cuaca. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan perkembangan karhutla di lapangan, sebagai strategi untuk membantu meningkatkan peluang hujan dan membasahi wilayah rawan. Di Kalimantan Barat, OMC telah dilaksanakan pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak dengan sembilan sorti penerbangan.

Titik Kebakaran Terbaru di Kalimantan Timur

Kebakaran juga tercatat di wilayah lain di luar tiga provinsi prioritas. Di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, lahan seluas 10,65 hektare terbakar pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Desa Sepan, Kecamatan Penajam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, dan BPBD setempat bersama personel gabungan berhasil mengendalikan api pada hari yang sama.

Seruan dari Lembaga Lingkungan

Berdasarkan hasil pemantauan Greenpeace periode 11-16 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 592 titik sumber asap di Pulau Kalimantan, dengan mayoritas atau 455 titik berada di kawasan ekosistem lahan gambut yang sangat rentan terbakar.

Greenpeace mendesak pemerintah untuk fokus pada perbaikan tata kelola air, pemulihan kawasan gambut serta rawa yang rusak, dan pencegahan pengeringan lahan agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal.

Kementerian Kehutanan sendiri mengingatkan agar data hotspot tidak langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran yang sesungguhnya. Hotspot tidak otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran sehingga tetap membutuhkan verifikasi lapangan.


Musim kemarau yang masih berlangsung diperkirakan akan terus meningkatkan risiko karhutla di berbagai wilayah Kalimantan. BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla.