Kenapa Setan Membangkang? Padahal Dulu Ia Taat kepada Allah

Pertanyaan ini sangat wajar muncul: jika setan (Iblis) dulunya adalah makhluk yang taat kepada Allah SWT, bahkan dikenal sebagai ahli ibadah, mengapa ia justru menjadi pembangkang yang mengajak manusia ke jalan sesat? Jawabannya ada dalam kisah penciptaan Nabi Adam AS yang diabadikan berulang kali dalam Al-Quran.

Iblis, Bukan Malaikat — Ini Sering Disalahpahami

Sebelum masuk ke inti kisah, ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Banyak yang mengira Iblis adalah malaikat, padahal ia bukan. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Iblis berasal dari golongan jin, bukan malaikat. Namun karena ketaatan dan ibadahnya yang luar biasa, ia diangkat dan hidup berdampingan dengan para malaikat, bahkan mengajarkan ilmu kepada mereka. Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa Iblis pernah menjadi salah satu penjaga surga dan pemimpin di antara jin karena kesalehannya. Inilah alasan mengapa ketika Allah memerintahkan sujud kepada para malaikat, Iblis turut disertakan dalam perintah tersebut.

Awal Mula Pembangkangan: Perintah Sujud kepada Adam

Ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS, Dia memerintahkan seluruh malaikat dan Iblis untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan — bukan penyembahan. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan dia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Seluruh malaikat patuh tanpa pertanyaan. Namun Iblis menolak — inilah titik awal dari seluruh kisah permusuhan setan terhadap manusia hingga hari ini.

Alasan Iblis Menolak: Kesombongan atas Asal Penciptaan

Ketika Allah SWT bertanya mengapa ia tidak mau sujud, Iblis menjawab dengan jawaban yang penuh kesombongan:

“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Inilah akar dari seluruh pembangkangan Iblis — kesombongan (takabbur). Ia merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api yang menurutnya lebih tinggi derajatnya dibanding tanah, tempat Adam diciptakan. Padahal, kemuliaan di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh unsur penciptaan, melainkan oleh ketaatan dan ketakwaan.

Iblis Diusir dan Dilaknat Allah SWT

Karena kesombongan dan pembangkangannya, Allah SWT murka dan mengusir Iblis dari surga serta melaknatnya. Allah SWT berfirman:

“Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya tidak menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina’.” (QS. Al-A’raf: 13)

Iblis Meminta Waktu hingga Hari Kiamat

Setelah diusir, Iblis tidak langsung menyerah. Ia justru mengajukan permohonan kepada Allah SWT:

“Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh’.” (QS. Al-A’raf: 14-15)

Allah SWT mengabulkan permintaan ini sebagai bagian dari ujian bagi seluruh umat manusia hingga hari kiamat tiba. Namun Iblis tidak berhenti di situ — ia mengucapkan sumpah yang menjadi misi hidupnya selamanya:

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’.” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Kesimpulan: Ketaatan Sebelumnya Tidak Menjamin Keselamatan

Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam: ketaatan dan ibadah yang luar biasa di masa lalu tidak menjamin seseorang (atau makhluk) akan terus berada di jalan yang benar. Satu momen kesombongan dan penolakan terhadap perintah Allah SWT — meski hanya sekali — bisa menghapus seluruh catatan ketaatan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah Iblis adalah peringatan keras bagi manusia agar tidak pernah merasa aman dari kesombongan, betapapun tinggi tingkat ibadah dan kesalehan yang telah dicapai. Kesombongan adalah dosa pertama yang muncul di alam semesta, dan ia tetap menjadi salah satu dosa paling berbahaya hingga hari ini.


Setan bukan diciptakan sebagai makhluk jahat sejak awal. Ia menjadi jahat karena pilihannya sendiri — memilih sombong daripada taat, memilih membangkang daripada tunduk pada perintah Allah SWT. Kisah ini menjadi pengingat bahwa iman sejati bukan diukur dari masa lalu, melainkan dari konsistensi ketundukan kepada Allah SWT hingga akhir hayat.