Update Terbaru Gempa NTT: Korban Meninggal Capai 72 Jiwa, Ribuan Rumah Rusak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 72 orang meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 Agustus 2026. Data tersebut merupakan pembaruan BNPB hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB.

Kronologi Gempa

Gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT pada Sabtu pagi (15/8) pukul 04.58 WIB. BMKG mengidentifikasi bahwa gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust, dengan episenter berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.

BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami, namun kemudian mengakhirinya pada pukul 07.30 WIB pada hari yang sama setelah tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak.

Update Terbaru Jumlah Korban

Data korban terus mengalami pembaruan sejak hari pertama kejadian:

Tanggal Update Meninggal Dunia Luka-Luka
15 Agustus (17.45 WIB) 43 orang
16 Agustus 53-54 orang 135 orang
17 Agustus 68 orang 213 orang
20 Agustus (terbaru) 72 orang 900 orang

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 900 orang mengalami luka-luka dan 82.691 warga mengungsi. Sebanyak 18.019 keluarga juga tercatat terdampak bencana.

Dampak Kerusakan Infrastruktur

BNPB mencatat sebanyak 29.001 rumah mengalami kerusakan akibat gempa, dengan rincian 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rumah rusak sedang, dan 10.760 rumah rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum dan infrastruktur, mencakup 804 fasilitas pendidikan, 195 rumah ibadah, 237 fasilitas kesehatan, dan 257 kantor. Selain itu, terdapat satu gudang, sembilan fasilitas irigasi, 116 fasilitas umum, satu pasar, 45 titik jalan, serta 16 jembatan yang terdampak gempa.

Ribuan Gempa Susulan Masih Terjadi

BMKG mencatat hingga 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, sebanyak 2.119 gempa susulan (aftershock) telah terjadi dengan magnitudo M1,3 hingga M6,2, di mana 24 di antaranya bermagnitudo di atas 5 dan 81 di antaranya dirasakan warga.

Gempa susulan masih terus terjadi hingga saat ini. Pada 20 Agustus 2026 pukul 09.47 WIB, tercatat gempa susulan bermagnitudo 5,7 di 39 km timur laut Ruteng, Manggarai, NTT. Sebelumnya, pada 17 Agustus 2026, terjadi pula gempa susulan bermagnitudo 5,8 di 39 km barat laut Ende, NTT.

Penanganan dan Bantuan Pemerintah

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dana siaga bencana sekitar Rp 5 triliun telah disiapkan untuk kebutuhan tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.

Bantuan logistik terus dikirimkan ke wilayah terdampak. Sebanyak 20 tenda dikirim dari Malang menuju Ende untuk wilayah Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo menggunakan KM Dharma Rucitra 8 pada 21 Agustus. Selain tenda, pemerintah turut menyalurkan Family Kit dan School Kit.

Untuk mendukung anak-anak korban gempa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan dukungan psikososial melalui Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) serta konektivitas Starlink bagi wilayah yang mengalami gangguan jaringan. Sekolah yang ruang kelasnya rusak diminta menghentikan sementara pembelajaran di ruangan tersebut, dengan kegiatan belajar dipindahkan ke ruang aman atau tenda belajar.

Wilayah Terparah

Berdasarkan data yang terus diperbarui, korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Manggarai, diikuti Manggarai Timur, dan Nagekeo.Manggarai Timur tercatat sebagai wilayah dengan dampak terparah dalam perkembangan terbaru bencana ini.

Imbauan BMKG

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada terhadap gempa susulan yang masih mungkin terjadi, serta memastikan setiap informasi yang diterima berasal dari sumber resmi seperti akun media sosial @infoBMKG, situs www.bmkg.go.id, atau aplikasi resmi InfoBMKG dan WRS-BMKG, guna menghindari kesimpangsiuran informasi maupun hoaks yang beredar di masyarakat.


Proses evakuasi, pencarian korban, dan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak masih terus berlangsung. Data korban dan kerusakan berpotensi terus diperbarui seiring proses asesmen yang dilakukan tim gabungan di lapangan.